MAKNA HIDAYAH

Kata hidayah terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf Ha, Dal, dan Ya. Menurut Prof. Quraish Shibab, maknanya berkisar pada dua hal. Pertama, "Tampil ke depan memberi petunjuk", dan keda, "menyampaikan dengan lemah lembut". Dari sini lahir kata hadiah yang merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati.

Allah menganugerahkan hidayah kepada makhluk-Nya sesuai dengan perannya. Firman Allah, "TUhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk" (QS. Thaha [20]:50). Menurut Tafsir Al-Misbah, ayat ini mengandung makna bahwa setiap makhluk memiliki ciri dan sifat tertentu yang membedakannya dari makhluk lain, dan dengan ciri dan sifat itu ia dapat menjalankan fungsinya dalam kehidupan ini. Dengan akal, manusia dapat menjadikan perbedaan tersebut sebagai bukti ke-esaan dan kekuasaan Allah SWT.
Bukan saja terhadap   sesama makhluk hidaya Allah datang berbeda, tetapi terhadap setiap manusia pun hidayah Allah tidak sama. Artinya, orang yang mempunyai peran dan kedudukan tingi memiliki hidayah lebih tinggi dibandingkan dengan orang biasa. Oleh karena itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Al-Tafsir Al-Qayyim membagi orang yang mendapatkan hidayah kepada beberapa tingkatan:
Tingkatan Pertama adalah hidayah dalam bentuk pembicaraan langsung, tanpa perantara, antara Allah dengan hamba-Nya. Ini merupakan tingkatan hidayah yang paling tinggi, sebagai mana Allah telah berbicara kepada Musa bin Imran as. Allah berfirman "Dan, Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung" (QS. Al-Nisa [4]:164).

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa ayat- ini bisa digunakan untuk menyanggah anggapan yang mengada-ada dari golongan jahmiyah Mu'tazilah dan golongan lain, bahwa yang dimaksud dengan pembicaraan ini adalah ilhamatau isyarat atau definisi suatu makna kejiwaan dengan sesuatu yang langsung. Penguatan dengan kata mashdar (taklima) ini dimaksudkan untuk mewujudkan penisbatan dan menghilangkan kiasan. Jadi, itu memang perkataan Allah.
Firman-Nya, "Dan, tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, Ya Rabbku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." (QS. Al-A'raf[7]: 143).
Tingkatan Kedua adalah hidayah dalam bentuk wahyu yang dikhususkan bagi para nabi, Firman Allah, "Sesungguhnya Kami telah memberikan wayu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wayu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya." (QS. al-Nisa[4]:163).
Berbeda dengan maksud ayat 51 dalam surat Asy-Syura yang menjadikan wahyu sebagai bagian dari berbagai pembicaraan, maka pada surat Al-Nisa ayat 163 di atas menjadikan wahyu hanya satu macam pembicaraan. Ibnu Al-Qayyim berpendapat bahwa hal ini didasarkan pada dua pertimbangan :
1. Itu merupakan satu-satunya bagian pembicaraan khusus, tanpa perantara.
2. Itu merupakan bagian dari pembicaraan yang bersifat umum, yang berarti penyampaian makna dengan  beberapa cara.

Menurut Qurah Shibab, surat A-Nisa ayat 163 di atas diturunkan sebagai bantahan terhadap orang Yahudi yang enggan percaya kepada Nabi Muhammad saw. kecuali jika Allah menurunkan kitab suci dari langit yang mereka lihat sendiri turun serta ditujukan secara khusus kepada mereka (lihat juga surat Al-Nisa ayat 153). Bantahan ini diperkuat lagi dengan ayat 164 di atas yang menegaskan, bahwa Nabi Musa sendiri menerima wahyu secara bertahap. Jika permintaan mereka agar diturunkan kitab yang utuh sekaligus dan tidak bertahap, maka dengan pernyataan diatas, khususnya dengan kata taklima (pembicaraan langsung) diketahui bahwa Nabi Musa as. menerima wahyu dengan bertahap.
Tingkatan Ketiga adalah pengiriman utusan dari jenis malaikat kepada utusan dari jenis manusia, lalu wahyu Allh disampaikan menurut apa yang diperintahkan-Nya.
Pada bagian ini, wahyu dikhususkan bagi para nabi dan bukan selain mereka. Utusan dari jenis malaikat ini bisa berwujud seorang laki-laki dihadapan utusan dari jenis manusia, sehingga manusia pilihan tersebut dapat melihat secara nyata dan juga berdialog dengannya. Adakalanya dia melihat dalam bentuk asli malaikat sebagaimana diciptakan. Adakalanya malaikat masuk ke dalam dirinya dan mewahuyukan apa yang harus diwahuukan, lalu keluar melepaskan diri darinya. Ketiga cara ini pernah dialami Nabi Muhammad saw.
Tingkatan Keempat adalah hidayah dalam bentuk tahdits (pengabaran). Hal ini berbeda dengan tingkatan wahyu yang khusu dan juga berbeda dengan tingkatan para shiddiqin, seperti yang terjadi pada diri Umar bin Khathab ra. Sabda Nabi saw, "Sesungguhnya ada orang-orang di antara umat-umat sebelum kalian yang mendapat pengabaran. Sekiranya yang demikian itu terjadi di tengah umat ini, maka dia adalah Umar bin al-Khathab."
Syaikhul Islam Ibuni Taimiyah pernah mengatakan, "Sudah ada ketetapan bahwa mereka itu adalah orang-orang di tengah umat sebelum kita. Oleh karena umat ini adalah umat yang paling baik, dan tidak memerlukan umat terdahulu karena kesempurnaan risalah Muhammad, maka Allah tidak membuat umat ini sepeninggal Rasul saw, membutuhkan muhadats (seseorang yang mendapat pengabaran), tidak pula orang yang pandai mengungkap rahasia dan tabir mimpi. Pemberian catatan ini terjadi karena kesempurnaan umat ini dan kecukupannya, bukan karena kekurangannya."
Muhadats adalah orang yang diberitahu tentang sesuatu didalam hatinya, sehingga kejadiannya persis seperti apa yang diberitahukannya..
Tingkatan Kelima adalah hidayah yang berupa pemberian pemahaman. Allah berfirman, "Dan (ingat kisah) Dauh dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan, adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sualaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu." (QS. Al-Anbiya 78-79).
Allah menyebutkan dua nabi yang mulia ini dan memuji kedunya dengan ilmu dan hikmah. Sulaiman dikhususkan dengan pemahaman dalam peristiwa ini, dan karena kelebihan inilah, menurut Quraish Shihab, pada zaman kedua Nabi tersebut, Bani Israel mencapai kejayaan dan menyatu dalam satu kelompok yang utuh.
Ali bin Abi Thalib pernah ditanya, "Apakah Rasulullah saw. mengkhususkan kamu sekalian dengan sesuatu tanpa manusia yang lain1" Maka dia menjawab, "Tidak, Tapi demi yang menumbuhkan butir tanaman dan yang menghembuskan angin, melainkan hanya pemahaman yang diberikan Allah kepada seorang hamba tenang Kitab-Nya dan apa yang ada di dalam Mushaf ini."
Tingkatan Keenam adalah tingkatan penjelasan yang bersifat umum, yaitu penjelasan kebenaran yang membedakannya dari yang batil berdasarkan dalil-dalil, saksi-saksi dan tanda-tandanya, sehingga kebenaran itu seakan menjadi sesuatu yang bisa disaksikan hati, seperti mata yang dapat melihat objek benda yang dapat dilihat. Tingkatan ini merupakan hujjah Allah atas makhluk-Nya. Allah tidak mengadzab atau menyesatkan seseorang melainkan setelah kebenaran ini sampai ke hatinya. Firman Allah, Dan, Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang haus merka jauhi." (QS. Al-Taubah; 115).
Penyesatan ini merupakan hukuman bagi mereka dari Allah, setelah Allah memberi penjelasan kepada mereka, namun mereka tidak mau menerima penjelasan itu dan tidak mau mengamalkannya. Karena itulah Allah menyiksa mereka dengan cara menyesatkan mereka dari petunjuk. Sekali-kali Allah tidak menyesatkan seseorang kecuali setelah adanya penjelasan ini.

Sementara itu, Thahir ibn Asyur membagi hidayah kepada empat tingkatan:
Pertema, apa yang dinamainya al-quwwar muharrikah wal mudrikah, yakni potensi penggerak dan tahu. Melalui potensi ini seseorang dapat memelihar wujudnya. Banyak hal yang dicakup potensi ini, dari naluri bayi menyusu atau menangis ketika sakit, sampai kepada perasaan yang mengantarnya menyingkirkan bahaya dan ancaman, atau mendatangkan kemaslatan dirinya. Misal, memintamakan dan minum, menggaruk kulit bila gatal, memejamkan mata bila terganggu, bahkan sampai ke puncaknya yaitu mengambil kesimpulan yang bersifat aksioma sebagai hasil pengamatan akal. Ini hanya terbatas bagi manusia yang diperolehnya melalui pengetahuan yang bersifat inderawi.
Kedua, Petunjuk yang berkaitan dengan dalil-dalil yang dapat membedakan antara yang hak dan bathil, yang benar dan salah, ini adalah hidayah pengetahuan teoritis
Ketiga,  hidayah yang tidak dapat dijangkau oleh analisis dan anek argumentasi akhliah, atau sesuatu yang bila diusahakan akan sangat memberatkan manusia. Hidayah ini dianugerahkan Allah swt, dengan mengutus Rosul-rosul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya, dan inilah yang disisyartkan oleh firman Allah, "Kami telah menjadikan merka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami" (QS. al-Anbiya; 73).
Keempat, hidaya yang merupakan puncak hidayah Allah swt, yakni sesuatu yang mengantar kepada tersingkapnya hakikat-hakikat yang tertinggi, serta aneka  rahasi ayang membingungkan para pakar dan cendikiawan. Ini diperoleh melalui wahyu atau ilham yang shahih, atau limpahan kecerahan (tajaliyyat) yang tercurah dari Allah SWT. Apa yang diperoleh para nabi pun dinamai oleh al-Quran sebagai hidayah, sebagaimana firman-Nya. "Mereka itulah (para nabi-nabi yang disebut nama-namanya sebelum ini) adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka" (QS. Al-An'am;90)
karena perbedaan pemberian hidayah diatas, maka orang yang mendapatkan hidayah tidak mesti selalu berada dalam jalan yang benar. Hal ini sesuai dengan teks a;-Quran sendiri yang terkadang merangkaikan kata hidayah dengan ila (menuju/kepada) dan kadangkala juga tidak.
Menurut sementara ulama berpendapat bahwa bila hidayah dirangkaikan dengan kata ILA, maka orang yang diberi petunjuk belum berada dalam jalan yang benar, sedang bila tidak menggunakan kata ILA, maka pada umumnya mengisyaratkan bahwa yang diberi petunjuk telah berada dalam jalan yang benar-kendati belum sampai pada tujuan dan karena itu ia masih diberi petunjuk yang lbeih jelas guna menjamin sampainya ke tujuan. Jika pendapat ini diterima maka ayat di atas mengisyaratkan bahwa pemohon sebagai muslim telah berada pada jalan yang benar, tetapi ia diajarkan untukmemperoleh petunjuk yang lebih mantap lagi. Memang Allah menjanjikan bahwa "Allah menambah petunjuk untuk orang-orang yang telah memperoleh petunjuk" (QS. Maryam: 76)
Ada juga yang berpendapat bahwa kata "HIDAYAH" yang mengunkan kata ILA hanya mengandung makna pemberitahuan, tetapi bila tanpa ILA maka ketika itu yang bersangkutan tidak hanya diberi tahu tentang jalan yang seharusnya dia tempuh, tetapi mengantarnya ke jalan tersebut.
Namun, dari semua perbedaan dan tingkatan hidayah di atas, bila diringkas tidak terlepas dari dua tujuan yang hendak dicapai dari adanya hidayah (petunjuk)
Pertama, petunjuk menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, Cukup banyak ayat-ayat yang menggunakan akar  kta "HIDAYAH" yang mengandung makna ini, misalnya, "Sesungguhnya engkau (Muhammad) memberi petunjuk ke jalan yang luru" (QS. asy-Syura : 52), atau "Ada pun kaum Tsamud maka Kami telah memberi mereka hidayat, tetapi merka lebih senang kebutaan (kesesatan) daripada hidayat" (QS. Fushshilat : 17). Kata "HIDAYAT" yang pelakukanya manusia adalah hidayat dalam bentuk pertama ini.
Kedua, petunjuk serta kemampuan untuk melaksanakan isi petunjuk. Ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah swt. Karna itu ditegaskan dalam firman-Nya bahwa. "Sesungguhnay engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk (walaupun) orang yang engkau cintai, tetapi Allah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya"(QS.Al-Qashash: 56).
Menurut Quraish Shibab, Allah swt, menuntun setiap makhluk kepada apa yang perlu dimilikinya dalam rangka memenuhi kebutuhan. Dialah yang memberi hidayat kepada anak ayam untuk memakan benih ketika baru saja menetas, atau lebah untuk membuat sarangnya dalam bentuk segi enam, karena bentuk tersebut lebih sesuai dengan bentuk badan dan kondisinya.
Petunjuk tingkat pertama (naluri) terbatas pada penciptaan dorongan untuk mencari hal-hal yang dibutuhkan. Naluri tidak mampu mencapai apapun yang berada di luar. tubuh pemilik naluri itu. Nah, pada saat datang kebutuhannya untuk mencapai sesuatu yang berada di luar dirinya. sekali lagi manusia membutuhkan petunjuk dan kali ini Allah menganugerahkan petunjuk_Nya berupa panca indera.
Namun, betapa pun tajam dan pekanya kemampuan indera manusia, seringkali hasil yang diperolehnya tidak menggambarkan hakekat yang sebenarnya. Misal, bagaimanapun tajamnya seseorang, ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air.
Yang meluruskan kesalahan panca indera adalah petunjuk Allah yang ketiga yakni akal. Akal yang mengatur sesmua informasi yang diperoleh indera kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan yang sedikit atau banyak dapat berbeda dengan hasil informasi indera. Tetapi, walau petunjuk akal sangat penting dan berharga, namun ternyat ia hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan tidak mampu menuntun manusia ke luar jangkauan alam fisika. Bidang operasinya adalah bidang alam nyata, tetapi dalam bidang ini pun tidak jarang manusia terperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal yang terbatas, sehingga akal tidak merupakan jaminan menyangkut seluruh kebenaran yang didambakan.
Demikianlah uraian singkat tentang hidayah. Semoga kita semua akan selalu mendapatkan curahan hidayah dari Allah swt. tiada hentinya, sehingga kita mampu menapaki kehidupan ini dalam garis yang diridhai Allah swt.. aamiin...






Written by

2 comments:

  1. Artikel yang sangat komplit.
    InsyaAllah di lain waktu akan membacanya lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trima ksih Banyak sahabatku yg baik yg selalu berkunjung diblogku ini.. ^_^

      Delete