Puncak Pengalaman Spiritual Dalam Iman Nabi Muhammad Saw

Postingan ini lanjutan dari
Pengalaman Spiritual Dalam Iman
karena saya rasa postingannya masih banyak kurangnya dalam pemaknaannya, semoga dengan ditambahnya postingan ini bisa sedikit kurangnya.

Konsepsi dan persepsi kita tentang Tuhan adalah pengalaman-pengalaman spritual itu sendiri. Sejauh mana pengalaman iman kita memberikan satu pemahaman yang benar-benar megah tentang-Nya, pengalaman yang sanggup memberikan komitmen moral dan aktual dalam kehidupan? seperti apa yang telah dikatakan oleh Muhammad Iqbal dibawah ini.

Muhammad Iqbal memberikan lima sifat dari pengalaman iman ini :

  1.  Pengalaman itu bersifat langsung, yaitu pengenalan dengan dimensi transenden sebagaimana kita mengenal objek yang lain
  2. Keseluruhan pengalaman itu tidak dapat dianalisis sepenuhnya, disebabkan oleh kesadaran yang hanya mempu memahami hakikat itu secara sebagian-sebagian
  3. Penyatuan mistik, yaitu bersatunya seseorang dengan Diri Yang Unik,  Yang Melebihi dan Meliputi
  4. Pengalaman itu tidak dapat di komunikasikan
  5. Waktu berlangsungnya pengalaman itu tidak selamanya, tetapi lambat laun menghilang, dan pada saat yang sama pengalaman itu meninggalkan suatu pengaruh besar di dalam diri orang yang mengalami

Mungkin lumayan sulit bagi kita untuk memahmi 5 sifat diatas, tetapi saya akan mencoba menjelaskan dari penjelasan Iqbal kita tahu bahwa seorang pribadi yang mengalami pengalaman spiritual sebenarnya mengambil pendekatan dari konsepsi dan persepsi tentang Tuhan dengan Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu, di sini yang dikonsepsi dan dipersepsi itu adalah pengalamannya, bukan Tuhannya. Ia tidak akan mengklaim bahwa ia telah berhasil mengenai Tuhan. Persepsinya tentang Tuhan tidak akan dimutlakkannya sebab persepsinya itu akan terus berubah dan akan semakin memperkaya pengalaman-pengalaman spiritualnya yang masih akan terus dijalani dan diharapkannya. Sungguh satu kebahagiaan tiada tara bagi orang-orang yang telah menjalaninya dan mengalaminya. Kita berdo'a sama-sama untuk bisa dan sanggup menjalankannya.. aamiin

Apakah dialog dengan Tuhan yang terjadi secara objektif seperti itu dimungkinkan? atau apakah kita bisa dialog dengan Tuhan seperti yang dijelaskan diatas dan diposting sebelumnya "
Pengalaman Spritual Dalam Iman " Mungkin salah satu dari kita ada yang bertanya seperti itu,
Saya jawab dengan tegas dengan merujuk Filsafat Iqbal, "BISA" Alasannya, konsep Tuhan dalam Islam adalah Nafs (Ego), Keakuan. Dan konsep manusia pun sama, nafs. Bedanya, kalau Nafs  Tuhan bersifat mutlak maka nafs manusia itu relatif. Tetapi, sama-sama nafs. Dengan begitu, dialog kreatif yang bersifat spiritual pada dasarnya adalah bertemunya dua nafs. Semua itu berlangsung melalui penjelmaan Nafs Mutlak pada ayat-ayat-Nya yang tertangkap, terserap dalam dimensi spiritual nafs relatif.

Filsafat Islam tidak memandang nafs sebagai jiwa (soul) seperti halnya Filsafat Barat. Pemikiran yang mengartikan nafs sebagai jiwa akan terjebak pada pemaknaan yang bercorak dualistik, yang membagi manusia atas dua : jiwa dan badan (matter and soul). Kita akan melihat dalam pembahasan antropologi bahwa jiwa dan badan harus dipandang satu "diri", tidak dipisah-pisahkan.

Puncak dari perjalanan iman yang bersifat spiritual yang ada di dunia yang fana ini adalah Pengalaman "PERJALANAN" Isra'Mi'rajnya Rasul kita Muhammad saw. dan kembalinya beliau ke dunia yang brutal ini. Itulah Rasul kita. Kita tahu bahwa tujuan kita hidup di dunia ini ingin bertemu dengan-Nya, namun Rasulullah saw. malam kembali lagi ke dunia untuk memberikan pencerahan bagi umat manusia. Muhammad Iqbal mengutip perkataan seorang sufi, Abdul Quddus dari Ganggoh, "Demi Allah, seandainya aku Muhammad saw, aku tidak ingin kembali lagi ke dunia karena sudah bertemu dengan Tuhan, sedangkan Tuhan adalah tujuan terakhir hidupku, mengapa ketika aku sampai ke puncak tujuanku aku harus kembali lagi ke dunia yang pana ini, " Kembalinya Rasulullah ini pun bisa kita pahami dari bahasa-bahasa beliau. Bahasa-bahasa hadits ini tidak membuat kita bingung tujuh lapis. Berbeda dengan bahasa para wali, "Aku adalah al-Haqq," kata al-Halaj. Para wali begitu asyik di dunianya yang telah "berjumpa" Tuhan. Mereka mabuk dalam keindahan Tuhan. Ketika mereka mabuk, mereka tidak mampu dan bisa kembali lagi ke dunia manusia; dalam pemaknaan bahasa, mereka tak turun ke bahasa manusia biasa seperti kita. Oleh karena itu, apabila ada hadits yang berkata, "Ana Ahmadun bila mim, wa ana 'Arabun bila 'ain. (Saya Ahmad tanpa mim maka ahad, Esa. Saya "Arab tan 'ain maka Rab, Tuhan). Hadits ini menurutku perlu ditolak secara tegas. Rasulullah tak akan membingungkan umatnya. Bahkan Beliau sendiri berkata dalam hadits shahih, "Saya bukan Tuhan dan Anak Tuhan".

Kembalinya Rasulullah saw. ke dunia setelah bertemu dengan Tuhan mengisyaratkan bahwa pengalaman spiritual kita pun harus kembali membumi dalam kehidupan sehari-hari dengan terus menerus tak kenal lelah memperjuangkan kebajikan dan kebenaran. Ini yang harus kita perbuat seiring "Proses" Perjalanan kita di dunia.

Sebuah "Proses", Saya. Karena merupakan proses maka konsep "nafs manusia" harus kita lihat sebagai kata kerja, bukan kata benda. nafasa artinya menjadi pribadi. Meski begitu, konsep Nafs Tuhan tetap harus dimaknai dengan kata benda abstrak. Pemaknaannya, nafs  manusia akan berbentuk daya kreatif dalam memperjuangkan kebenaran. Saat berhadapan dengan Nafs Mutlak Tuhan, manusia harus menyelaraskan nafs-nya secara kreatif dalam proses penciptaan, karya kebudayaan. Karya manusia harus menjadi karya Tuhan. Ingat, setiap karya manusia yang tidak menjadi karya Tuhan itulah yang menyebabkan semua kerusakan di muka bumi.
Semua bencana yang menimpa manusia adalah murni karena perbuatan mereka sendiri. "Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia (bima kasabat aidi an-nas). Dia akan menimpakan sebagian akibat dari apa yang telah diperbuat kepada mereka, agar mereka dapat kembali ke jalan yang benar (QS. ar-Rum;41)

Written by

3 comments:

  1. met sore sobat. trmakasi info2 dan triknya sobat yang dah mau berbagi buat pengunjung blog ini. semoga dengan hasil karya sobat tmn2 blogger gak terlalu susah2 mncari postingan dengan yang susah di cari kalu di sini dah ada. lanjutkan kryamu sobat salam hangat selalu buat anda.

    ReplyDelete
  2. kunjungan malam sahabatku, ijin menyimak saja, karena terus terang saya belum banyak pengalaman soal ini,tapi postingan ini banyak memberi manfaat dan pengetahuan yg berguna buat saya
    Terima kasih sahabatku
    salam sukses selalu

    ReplyDelete
  3. Sedikit Saya ingin menggaris bawahi gan dan bertanya. "tujuan kita hidup di dunia ini ingin bertemu (dengan-Nya)" itu bertemu kepada Allahkan? atau apa? kalo benar Itu terlalu jauh kalo menurut Saya sebelum kita paham betul Peran serta Fungsi kita sebagai makhluk ciptaan Allah.

    Maksudnya bertemu disini itu ketika kita "Beribadah" atau ketika nanti minat tentunya seluruh Umat adalah "Surga"? Dan yang Saya garis bawahi adalah seperti kutipan ditas "Tujuan Hidup di Dunia" kalo menurut Saya tujuan kita adalah untuk IBADAH. Mungkin agan bisa mengerti maksud Saya dan bisa menjelaskan? ^_^

    ReplyDelete