Bank Syari'ah VS Bank Konvensional

Berbicara masalah ekonomi terkadang kita suka dibingungkan oleh bunga bank. Apa pengertian rib? Ribu diturunkan dari kata raba yang berarti "meningkatkan" atau "menumbuhkan". Menumbuhkan di sini maksudnya, menurut para ulama adalah tambahan atau peningkatan sepihak (dari para pemodal) tanpa jasa atau kerja yang diberikan sebagai gantinya.

"Beras ditukar dengan beras dalam jumlah yang sama dan diberikan dari satu orang ke orang lain, sisanya menjadi riba. Uang ditukar dengan jumlah yang sama dan diberikan dari satu orang ke orang lain, sisanya menjadi riba. " Satu hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.

Ekonomi Islam yang gencar memperkenalkan Bank Islam adalah Muhammad Nejatullah Siddiqi. Dia menjelaskan fungsi sistem perbankkan islam dalam buku sederhananya yang menjadi jiwa pemikiran lahirnya Bank Syari'ah, Bank Islam," Banyak penyimpan uang mengadakan kontrak mudharabab pribadi dengan suatu usaha perbankkan, yang diorganisasi berdasarkan modal saham, dengankontrak-kontrak yang mensyaratkan pembagian laba dari usaha perbankkan" :
Pertama, Bank menawarkan jasa dengan memungut biaya dan komisi.
Kedua, Bank berperan sebagai sumber pemberi modal dengan melakukan pemilihan yang adil terhadap kaum wiraswatawan yang mencari modal dari bank tersebut. Kewajiban menanggung kerugian dalam suatu kontrak mudharaba hanya dibebankan kepada si pemberi modal saja, pihak yang bekerja tidak menanggung kerugian karena adanya modal yang disebarkan oleh pemberinya,. Oleh karena itu, kerugian yang diderita oleh seorang wiraswastawan yang bekerja dengan modal yang dipinjamkan bank akanditanggung oleh bank. Tetapi, bank tentu saja telah meminjamkan modal kepada banyak wiraswastawan, dengan penganekaragaman investasi seluas mungkin. Kerugian-kerugian yang diderita para individu cenderung akan diserap oleh beberapa laba yang disisihkan untuk bank dari para wiraswastawan yang berhasil. Sepanjang total laba yang disisihkan sebagai pinjaman bank ditambah honor dan komisi yang diperoleh bank tetap dalamjumlah yang positif. Kepentingan para penyimpanan modal pun terjamin. Namun demikian, bagaimana halnya jika hasil bersih bank tersebut mempunyaijumlah negatif? Ini berarti rugi, yang harus dibagikan berdasarkan modal saham dan simpanan mudharabah".

Kita mengucapkan terima kasih banyak atas usaha Sidiqqi ini. Tetapi, dari paragraf diatas kita bisa secara sederhana mengetahui bahwa si penyimpanan uang mengambil resiko, seperti diungkap Ziauddin dalam bukunya, Masa Depan Islam, "Bagaimana orang bisa merencanakan masa depannya jika orang itu tidak yakin apa yang akan terjadi terhadap uangnya pada akhir tahun keuangan? Dan bank-bank tidak mempunyai jaminan bahwa mereka akan mendapatkan kembalimodal yang mereka tanamkan. Mungkinkah baik bank maupun penguasaha menadakan perjanjian yang merugikan? Barangkali ini sebabnya mengapa bank Islam kehilangan modal mereka dalam waktu singkat?

Lantas bagaimana sistem ekonomi Islam itu? Apakah kita harus menerima adanya bank yangj jelas-jelas menjadikan laba sebagai sandaran keuntungannya?

"Baik dalam pengertian pemikiran maupun praktik, ilmu ekonomi Islam telah terbenam ke dalam sistem keuangan. Ilmu Barat bertindak, dalam teori dan praktik, sebagai suatu sistem terpadu dan sistem ini adala hsebuah mesin. Suatu proses penguatan diri telah mulai berjalan," lanjut Sardar.

Sardar menutup tulisan tentang ilmu ekonomi Islam ini dengan, "Sebuah tugas yang sangat berat baru saja dimulai untuk mengubah etika (ekonimi Islam) menjadi suatu sistem ekonomi dinamis yang memiliki identitas individu dan sarana-sarana metodologi tersendiri serta menyuguhkan suatu alternatif yang nyata bagi paradigma yang kini dominan. Ini merupakan tugas yang panjang dan ahli ekonomi Muslim masih tetap setia pada dunia-dunia mereka maka setiap gagasan baru, setiap teori baru, setiap langkah baru akan membawa kita semakin dekat pada peradaban Muslim masa depan yang dinamis dan berkembang." Hanya sebuah harapan, 'Kan?

Tokoh yang bernama Fazlur Rahman mempunyai pandangan lain tentang bank. Rahma, setelah meneliti hakikat riba dalam Islam, menyimpulkan bahwa buang bank bisa dihapus. Walau begitu, di dalam masyarakat yang belum direkonstruksi berdasarkan pola Islam, dan bunga bank dihapus ini merupakan langkah bunuh diri bagi kesejahteraan ekonomi dan sistem finansial negara serta juga bertentangan dengan spirit tujuan Al-Quran dan As-Sunnahjia bunga bank dihapus.

Rahman melihat bahwa tujuan Al-Quran adalah menegakkan tata sosial yang adil dan egaliter serta dapat bertahan di muka bumi. Bila kita mempelajari aspek reformasi sosial Al-Quran maka akan terlihat dua karakteristik Al-Quran yang nyata, :
Pertama, Sebelum memperkenalkan suatu ketetapan atau perubahan sosial, Al-Quran terlebih dahulu mempersiapkan landasn yang kokoh baginya, kemudian barulah sebuah ketetapan diperkenalkan secara gradual. Sebagai misil, walaupun pernyataan Al-Quran tentang riba dikeluarkan di makah, riba tidaklah dilarang secara legal hingga beberapa waktu kemudian di Madinah.
Kedua, Soal legalisasi Al-Quran, menurut Rahman, selalu memliki latar belakang atau konteks historis yang oleh para mufasir disebut sebagi asbab an-nuzul atau sebab turunnya wahyu.

Melihat argumen yang diberikan Rahman ini, dapat disimpulkan dua hal. :
Pertama, untuk memwujudkan cita-cita Islam termasuk dalam mendirikan bank Islam-harus dimulai dengan upaya conditioning umat dalam menerima dan melaksanakan idealitas ajaran Islam.
Kedua, secara akomodatif umat Islam diperkenankan melakukan aktivitas dengan bank konvensional, namun secara gradual membangun sistem ekonomi Islam-termasuk lembaga perbankkan Islam-harus terus diupayakan.

Anda mungkin bisa simpulkan sendiri dari penjelasan tentang bank ini. Masih terjadi perdebatan. Dan, menurutku, penamaan "Bank Islam" sekarang ini hanya gincu, tak lebih seperti pakaian takwa, jenggot dan nasyid. "Bank-bank Islam telah menjadi koresponden bank-bank asing dan menstranfer uang dari kaum Muslimin ke negara-negara Barat". Kata seorang ahli ekonomi terkemuka Mesir, Yusuf Kamal. Tapi, kita pun kembali sangat mendukung usaha-usaha yang sedang dilakukan untuk mencari langkah-langkah konkret menuju ekonomi Islam.

Hanya itu yang aku tahu. Yang jelas, sudah saya katakan bahwa etika tidak berbicara sampai ke lapangan praktis atau teknis. Apabila kamu berminat kembali ekonomi Islam, inilah tugas terberatmu. Tetapi, walau begitu, saya yakin riba akan menjauhkan kita dari silaturrahmi. Dan, kiranya patut kita pertimbangkan temuan Alvin Toffler ketika menelaah gerak sejarah bahwa bank (maksudnya Bank yang bukan dalam konsepsi Siddiqi) merupakan lembaga utama dari sistem keuangan modern. "Menerimanya berarti menerima seluruh struktur teoritas yang menyertainya. Keduanya menyatu dan tidak dapat dipisahkan." Kata Toffler. Bukan saya.

Jadi antara Bank Syari'ah dengan Bank Konvensional itu saling melangkapi satu sama lainnya dan tidak dapat dipisahkan secara global.

Pertanyaan saya,
Jika dijaman sekarang tidak ada Bank Konvensional, Apakah sistem Ekonomi dunia akan sejahtera?
Bagaimana dengan Bank Maya Seperti Rekening Paypal yang ditransper dari bank konvensional atau bank asing yang dimasukkan ke bank syari'ah, apakah tetap syari'ah?
Bank Syari'ah tetap aku pandang lebih baik jika sistemnya sesuai dengan syari'at bukan hanya namanya saja yang syariah, tapi pola dan caranya tidak syari'ah, itu tetap tidak syari'ah. aku berkata seperti ini karena ada teman saya yang mengatakan "sekarang tidak sedikit yang menamakan atas nama syari'ah tetapi tidak syari'ah, ini kata karyawan dibank syari'ah sendiri yaitu salah satu teman saya.

Walaupun Bank Syari'ah lebih baik menurut pandangan islam,
Tetapi bukan berarti bank konvensional itu tidak baik..


Written by

51 comments:

  1. maaf ya KY juga tak mengerti kalau masalah ekonomi ini, tapi sekarang sudah banyak bank2 islam di buka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali Ky, sekarang sudah mulai banyak mendirikan atas nama bank syari'ah,
      semoga syari'ah semua yah..

      Delete
  2. saya jg ragu untuk invest di bank syariah, krna knyataanya bnyak bank knvesional mnambah embel2 syariah, takutnya syariah hanya sbg alat untuk mnyasar nasabah muslim

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga sama sob.
      takutnya begitu..
      tapi kita harus benar waspada untuk memilih bank syari'ah demi kenyaman kita yah

      Delete
  3. pagi lukman
    setuju banget dengan tulisan lukman
    infonya menambah pengetahuan banget

    ReplyDelete
  4. selalu ada kekurangan dn kelebihannya masing2
    #pengalaman :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo masalah itu, pasti setiap perkara ada kekurangan dan kelebihannya.. :D

      Delete
  5. justru saya mempertanyakan, apakah bank syariah bener-benar telah syar'i dan taat asas, Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah benar sekali itu mas dengan pertanyaannya..
      mungkin lebih baik kita tanya langsung ke tokohnya yah mah.. :D
      tetapi saya yakin pasti ada bank syari'ah yang benar2 syar'i, walaupun aku tidak tahu bank syari'ah mana itu.. :D

      Delete
  6. Pada Awalnya saya Mengenal Bank tempat saya menyisikan sebahagian Pendapatan saya dengan keluarga saya Tabung di Bank Non Syari'ah, Namun seiring waktu berjalan Bank Syari'ah Pun sudah Hadir di Indonesia maka saat ini Alhamdullilah Uang saya simpan untuk Persiapan Biaya Pendidikan kedua Buah Hati saya KINI Saya Simpan Bank Syari'ah

    ReplyDelete
    Replies
    1. waw keren mas andi..
      semoga sukses mas andi dalam mencapai cita-citanya..

      Delete
  7. Yang meneybalkan buat saya adalah orang-orang non-Muslim melabeli bank mereka dengan nama syari'ah. Termasuk miliknya Tanusudibyo itu. Di Inggris juga sama, mereka tertarik dengan systemnya... Semoga dengan itu mereka mendapatkan hidayah Islam karena melihat Islam yang begitu paripurna dalam semua lini kehidupan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya yah, semoga demikian mereka mendapatkan hidayah dari Tuhan.. aamiin..

      Delete
  8. kalau saya sih ada 2 konvensional dan syariah, bca untuk trima gaji cuma numpang lewat doang trs ditabungnya di mandiri syariah hehehe

    Mampir kesini ya, salam kenal Peta Indonesia Karya Anak Negeri

    ReplyDelete
  9. jujur.. meskipun saya org islam dan mahasiswi fakultas ekonomi syariah saya lbh menyukai BANK KONVENSIONAL, minimal bank konvensional adlh jujur, tdk sperti bank syariah yg hanya ganti kostum, produknya sama tp istilahnya saja yg di arab2kan

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah kalau masalah ini aku juga pernah mengetahui bank syari'ah seperti ini..

      Delete
  10. Saya tidak tahu mas :D yang jelas saya menggunakan simpedes :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tidak apa-apa mba nazar.. :D
      nyantai saja.. ^_^

      Delete
  11. Gak pernah ke bang.. tapi temen2 nyarani ke bang syari'ah.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. masalah itu kembalikan kepada diri sendiri.
      karena masalah memilih hak pribadi.. :D
      tidak ada yang pemaksaan atau dirugikan..
      nyantai saja.. :D

      Delete
  12. iya sob bahkan perlakuan bunganya ada yang melebihi bank konvensional, dalihnya katanya yang penting akad awal transaksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang ada bank syari'ah seperti itu sob... aku juga pernah tahu dari teman saya.

      mohon perhatiannya kepada semuanya..
      postingan ini bukan untuk menyudutkan salah satu bank,
      jadi baik bank syari'ah ataupun bank konvensional sama-sama mempunyai sistem tersindiri. dan menurut pandangan kita secara pengalaman masing-masing, pasti ada kelebihan dan kekurangannya..

      postingan ini hanya pandangan saya yang awam.
      jadi jika ada yang salah dengan isi postingan ini, mohon masukkannya.
      seperti sobat ini..
      terima kasih sobat atas masukkan..

      Delete
  13. Saya tidak begitu paham isi dalam perbankan, saya nyimak aja ya mas....

    :D Senyum yooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas harun..
      terima kasih banyak.. :D

      Delete
  14. met pgi mas wah infonya sangat berarti banget mas trmksih'y mas

    ReplyDelete
  15. Kalau pendapat saya bahwa konteksnya bukan baik atau tidak nya suatu bank syariah atau konvensional, tapi jika agama yang kita anut adalah Islam artinya wajib mengikuti syariat Islam. Kita simak ayat ini "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman." (Al-Baqarah:278).

    Jika kondisi tidak memungkinkan, berusaha mencari yang paling mendekati syariat Islam. Dengan berusaha untuk menjauhkan riba dari kehidupan meskipun tidak 100%, maka sudah sangat baik disisi Allah.

    Sekali lagi bahwa berusahalah mencari bank syariah yang mendekati syariah. Karena kita tau bahwa bank konvensional itu riba. Seperti yang disebutkan di ayat ini "Tuhan menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (QS 2:275)

    Saya perlu jawab pertanyaan mas lukman, saya yakin 100% jika di dunia menggunakan bank syariah akan sejahtera, karena syariah datang dari Allah sedangkan riba diharamkan Allah. Kita perlu tau juga, beberapa kali krisis ekonomi salah satu penyebab terbesarnya adalah riba.

    Terkait paypal.. yang terpenting kita sudah menggunakan bank syariah yang mendekati syariah, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk transfer dari bank syariah di luar negeri, hal ini masih bisa dimaklumi. sekali lagi yang terpenting kita sudah berusaha untuk syariah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. super sekali komentarnya mas..
      terima kasih banyak masukkannya..
      jujur saya sangat setuju dengan pendapat mas basyari'ah...

      Delete
  16. Replies
    1. jangan bingung.. :D
      diambil hikmahnya saja..

      Delete
    2. .. he..86x. hu um kawan. abiznya bahas ttg bank. huhh ..

      Delete
    3. maaf yah jadi membuatmu bingung.. hehhee

      Delete
  17. Ada hal yang mendasar dalam ekonomi islam yaitu Wata'awanu 'alal birri wataqwa, wala ta'aawanu 'alal ismi wal udwan! Intinya unsur ekonomi dalam islam itu saling menguntungkan, dan kalau ada salah satu yang di rugikan maka itu menjadi riba!

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih masukkan..
      saya suka sekali dan sangat setuju dengan komentar mas andik..

      Delete
  18. HEhehe mas, kalau boleh saya kasih tahu, saya itu mas loh bukan mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha....
      maaf mba, eeh salah... mas maksudnya.. :D
      oke sobat, terima kasih sudah dikasih tahu.
      ^_^

      Delete
  19. Replies
    1. hehehhe.. blum ada mas yang barunya.. ^_^

      Delete
    2. Padahal yang komen juga belum ada yang baru., hoho.. Numpang lewat mas :D

      Delete
  20. terima kasih atas perkongsian..baru jelas sekarang yg mana lebih baik utk memilih bank..:-)

    ReplyDelete
  21. seperti yang dinyatakan oleh admin blog super ini..bahwa benar namanya adalah bank syariah...tapi dalam kenyataannya praktik bank-nya hampirserupa dengan bank konvensional...karena bank syariah yang seratus prosen di negri ini belum ada sama sekali,..sebab masih ketakutan akan merugi bila tidak melakukan hal yang dilakukan oleh bank konvensional... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih banyak mas Hariyanto.. atas masukkannya.. :D

      Delete
  22. sama-sama mas Lukman...kembali hadir di sini menyapa sahabat :-)

    ReplyDelete
  23. selamat sore mas lukman..
    sudah lana nih ta hadir di sini :)
    moga aja sistim perbankan kita makin baik lagi..kedepan nya ya mas..terlebih utk pelayanan para nasabahnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat sore juga mas budi.. :)
      benar mas, pelayanan yang lebih penting.. :D

      Delete
  24. Sama bank Syariah aku juga masih sanksi, benar kata Mas Lukman polanya masih ada yg belum syariah.. tapi sekarang kebanyakan PNS menerima gaji dari transferan bank konvensional, mau gak mau harus punya rekening di bank konvensional deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu, pokoknya secara system ekonomi, antara bannk syar'ah dengan babk konvensional sudah mengalir bak darah yang mengalir dalam tubuh. tak akan dapat dipisahkan

      Delete