Mengosongkan Diri Kita Dari Keterpisahan-Ego

Satu perihal yang sering membuat kita tersandung adalah ego, sisi diri kita yang paling mengikat pikiran dan hasrat dan karenanya paling mungkin berperilaku, seperti orang bijak ini berkata "dengan begitu halus, seperti keledai rabun. Bukan berarti ego itu buruk. Kita membutuhkan ego agar menjadi bentuk. Ego yang terbentuk dengan baik memberikan saluran yang dapat kita percayai untuk mengalirkan energi jiwa kita. Mereka tahu bagaimana melindungi energi jiwa dan menjaga ruang tetap terbuka bagi ungkapan jiwa kita. Ego yang baik tidak menjadi penghalang. Jika di ibaratkan mereka adalah penata panggung yang menakjubkan, tetapi menjadi pameran utama, tidak, itu bukan pekerjaan mereka.

Dalam Pencarian jati diri, ego dan segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka mempunyai status yang sama sebagai pernak-pernik yang kita beli saat liburan. Mereka mengingatkan kita akan makna, tetapi mereka sendiri tidak bermakna. Jika kita mengartikan makna hidup kita melalui koleksi ego, kita akan terperangkap di dalam timbunan suka dan tak suka, kebiasaan, citra, sejarah dan opini. Baik yang tidak tampak maupun nilai sejati dari yang tampak sekalipun tidak akan jelas.

Cinta adala hobat bagi ego yang sesak. Ketika kita merasakan tarikan dari suatu kesatuan yang tampak__ Cinta--Pertama-tama kita mungkin mengira itu berarti menyatukan kedua ego. Tetapi jika demikian, penyatuan tersebut tidak berhasil baik. Itu jadi terasa tidak seperti cinta dan lebih menyerupai persengketaan. meributkan isi ego kita yang berbeda-beda, merebut kedudukan menyangkut isi siapa yang lebih didahulukan, atau mengumkan gencatan senjata dengan menandai batas-batas agar tumpukan barang-barang kita tidak  tecampur. Kekasih mistis memandanng hubungan dengan cara yang berbeda. Ksatuan tidak berasal dari tingkatan ego melainkan dari jiwa aan tarian gaib yang berlangsung di baliknya. Ketika kesatuan yang lebih mendalam muncul, ia membersihkan saluran, "meleburkan dan megeringkan kehidupan ego" Hal seperti ini ;

Cinta adalah racun manis yang kita makan dari tanganmu
untuk meleburkan dan megeringkan kehidupan ego 
yang kini menyemburkan mata air ini dari kita.

Ketika cinta melanda, bahkan wada ego yang paling baik pun tersusun ulang. Makna baru itu mengubah tepian sungai pribadi kita, menyesusaikan diri dengan aliran sebelumnya. Kita pun tidak kehilangan wadah lama kita, sebab apa yang terungkap itu " seperti matahari yang muncul :

Engkau granit.
Aku gelas  anggur yang kosong.

Kau tahu apa yang terjadi saat kita bersentuhan!
Kau tertawa seperti matahari yang muncul sambil menertawakan
sebuah bintang yang lenyap ke dalamnya..

Dalam syair berikut ini, "HU" adalah kata ganti yang digunakan para waliyallah untuk menunjukkan kehadiran kita yang tak terlihat dan kekuatannya untuk "meniupkan" kita keluar dari makna sempit "SIAPA" :

Nabi Muhammad saw diriwayatkan pernah berkata,
Barangsiapa menjadi milik Tuhan, Tuhan menjadi miliknya"

Nafas kita yang lemah dan tidak teratur, 
kepribadian yang melebur ini, 
ditiupkan keluar melalui  HUUUUU lahiriah, 
yang tidak pernah berubah!

Setetes air terus menerus ketakutan 
bahwa ia mungkin menguapkan di udara, atau terserap oleh tanah.

Ia tidak ingin disalahgunakan dengan cara-cara begitu, 
tetapi ketika ia melepaskan dan jatuh ke dalam samudra asalnya,
ia menemukan perlindungan dari kematian-kematian lain.

Bentuk yang berbutir-butir kecil telah hilang, 
tetapi esensinya yang berair telah menjadi sangat luas dan tak dapat diganggu-gugat

Dengarkan aku, kawan-kawanku, 
sebab kau adalah butiran air, dan kau dapat menghormati dirimu sendiri dengan cara ini.
Apa yang bisa lebih beruntung daripada mendapati samudra merengkuh butiran itu?

Demi Tuhan, jangan tunda menjawab ya!
Menyerahlah dan jadilah pemberi.




Written by

0 comments: