Agama Ardhi dan Agama Samawi

Dalam postingan sebelumnya (MAKNA KEBUDAYAAN) saya mencantumkan bahwa agama merupakan bagian dari budaya. Untuk menghilangkan kesalahpahaman saya ingin memberikan alasannya terlebih dahulu!

Agama dapat dibagi dua dilihat dari sumbernya, yaitu agama ardhi dan agama samawi.
Agama Ardhi atau agama bumi adalah agama produk manusia, penjelmaan berpikir/merasa dalam hubungannya dengan Yang Kudus. Untuk menyebutkan contoh-contohnya dapat dikemukakan bentuk-bentuk agama yang digolongkan ke dalam agama bersahaja, suka diistilahkan dengan animisme, dinamisme, naturalisme, spritisme. Sebus saja sebagai contoh agama Sinto, Hindu, dan Budha termasuk penjelmaan jiwa manusia dalam hubungan yang kudus. Agama-agama ini sring dipandang sebagai cabang kebudayaan karena merupakan cara berpikir dan merasa dalam kehidupan, suatu kesatuan sosial mengenai hubungan dengan Yang Suci.

Kita tidak boleh menghina kepercayaan mereka. Kita jangan begitu gampang mencibir bahkan menertawakan kepercayaan mereka. Kita dilarang oleh Tuhan untuk berprasangka buruk, "Wahai sekalian orang-orang beriman, jauhilah prasangka sebab sesungguhnya sebagian dai prasangka itu adalah kejahatan. Janganlah engkau sekalian memata-matai satu sama lain dan jangan pula saling mengumpat (QS. al_Hujurat:12).

Menurut taksiran Upanishad, agama Hindu dan Budha erbagi atas 250 madzhab. Ini sering dijadikan alasan bahwa agama Hindu dan Budha merupakan kultur universal, karena ia berubah-ubah menurut perubahan cara berpikir/merasa dalam hubungan dengan Yang Suci. Cara berpikir dan merasa itulah yang menyebabkan lahirnya mazhab sebanyai itu.

Walau begitu, agama-agama ardhi  yang kita sebut di atas sekarang ini perlu dipertanyakan, sebab banyak fakta yang menerangkan bahwa agama-agama itu adalah agama samawi seperti agama kita. Misalnya, Budha. Menurut Hamayun Kabir, seorang ilmuwan Muslim India, Kita Weda dan GIta merupakan Karya Tuhan sama seperti Al-Qur'an menegaskan keesaan Tuhan dan mengklaim sebagai dasar bagi seluruh agama yang benar. Silakan lihat Rig Weda,  di sana kita akan menemukan Dialah Yang Esa", meskipun kisah-kisah menyebutnya dengan banyak nama. Atharva menyatakan bahwa kemasyuran, kekuatan, kebahagian, kemegahan, dan makanan adalah milik orang yang hanya memikirkan Tuhan "sebagai Yang Satu tida dua.... Dia Yang Tunggal, satu satunya Yang Jelas, yang Sendiri. "Semakna, bukan?

Kemudian, di dalam Al-Qur'an kita mengenal kisah orang-orang suci seperti Dzul Kifli (QS. al-Anbiya:85 dan QS. Shad:48) dan Dzul Qarnain (QS. al-Kahfi:83-98). Menurut Humayun Kabir, Dzul Kifli tiada lain adalah sang Budha. Dzul Kifli mempunyai arti Pangeran dari Kufl (Prince of Kufl). Karena bahasa Arab tidak mengenal hurup "p" maka diganti dengan "f". Kita tahu bahwa sang Budha adalah Pangeran dari Kapilawastu (abad ke 5 sampai 6 SM). Sementara itu, Dzul Qarnain diidentifikasikan oleh Sir Sayyed Ahmad Khan sebagai Chewang-te, guru Kaisar Cina (Xuang Di, berkuasa tahun 74-48 SM). Tetapi menurut Muhammad Yusuf Ali, Dzul Qarnain diidentifikasikan sebagai Alexander Agung (Kaisar Marcedonia, 356-323 SM). Beda lagi menurut Maulana Abu Kalam Azad, Dzul Qarnain Cyrus (Kaisar Persia, sekitar 590-529 SM). Memang terjadi perdebatan mengenai Dzul Qarnain. Tetapi, yang terpenting bagi kita sekarang adalah bahwa telah diutus seorang nabi untuk berbicara menurut bahasa kaumnya, dan Al-Qur'an hanya menceritakan sedikit dari mereka.

Nah, apakah agama-agama yang ada ini tergolong agama bumi atau agama langit? Entahlah, saya tidak ingin mempersoalkannya karena memang saya kurang referensi tentangnya. Tapi yang jelas, bagi saya semua agama mengajarkan kebaikan. Sebab, ada kalimatun sawa'. Oleh karena itu, kita harus "berlomba-lomba dalam kebajikan" dengan mereka. Ingat kata guru, Fastabiqulkhairat,  menggunakan kata khair.(Makna Khair Dan Ma'ruf)
Agama samawi atau agama langit adalah agama yang turun langsung dari Tuhan, bukan produk manusia. Agama ini lahir melalui utusan-Nya (Rasul) yang membentuk Kitab Suci sebagai pendefinisikan dalam bahasa manusia dari apa yang telah diwahyukan-Nya. Contoh agama langit yang tidak terjadi perdebatan adalah Yahudi, Kristen dan Islam. Menurut agama Islam, agama yang dibawa Muhammad saw. adalah agama langit terakhir. Oleh karena itu, berkesimpulanlah para ulama bahwa kitab-kitab suci yang lahir sebelum Islam telah terkena pemikiran manusia, kesuciannya telah terkotori oleh akal manusia, disadari atau tidak oleh penganutnya. Agama samawi bukanlah budaya, melainkan murni "Produk Tuhan".

Islam sebagai agama samawi yang kitab sucinya akan tetap terjaga kesuciannya sepanjang masa dan mempunyai prinsip rahmatan lil'alamiin harus bisa memberikan solusi bagi tiap-tiap kebudayaan. Itulah alasan saya memasukkan agama ke dalam makna budaya. Dan memang selamanya terjadi perdebatan mengenai hal ini. Menurut saya, Islam adalah agama langit dan harus sesuai dengan tiap kebudayaan. Kalau dalam istilah Guru saya KH. Abdurrahman Wahid. "Pribumisasi". Kita harus jadi "orang pribumi" yang mengerti rahmatan lil'alamiin. (MAKNA MANUSIA)





Written by

8 comments:

  1. selamat mlm sobat trmksih,ni kunjungan mlm di kasih pencerahan yang bagus sobat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat malam juga sobat..
      sama -sama sobat...

      Delete
  2. Saya rasa memag tidak ada salahnya kang ustd. memasukkan agama dalam ranah budaya, karena saya sendiri orang di diberi jalan rizky lewat jalan budaya juga berpikir, Agama itu akidah yang membumi, untuk selanjutnya di ritualkan secara rutin, dan akhirnya menjadi pakaian seperti layaknya budaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih masukkannya mas..
      saya suka sekali dengan komentar mas ini..

      Delete
  3. aku sepakat dengan Hamayun Kabir, agama buda dan kristen juga agama samawi

    ReplyDelete
  4. klo lihat realitanya spertinya agama samawi terlihat mmenjdi spti agama ardhi ktka sdah terakulturasi dg adat istiadat, shingga nampak mnjadi bagian dari budaya..walahualam..

    ReplyDelete
  5. .. "Kita tidak boleh menghina kepercayaan mereka. Kita jangan begitu gampang mencibir bahkan menertawakan kepercayaan mereka. Kita dilarang oleh Tuhan untuk berprasangka buruk", aq suka banget ma kata^ itu. apalagi menilai tentang agama setiap manusia, cz yg dapat menilai itu bukan kita namun hanya Allah. kalo beda agama, aq punya loch sahabat baekku namun dy non muslim. alhamdulillah,, sampe sekarang kita masih bersahabat dengan baek. tp dy malah sedikit^ belajar ttg islam loch ..

    ReplyDelete