MAKNA KEBUDAYAAN

Dalam pembicaraan sehari-hari amatlah mudah kita mengucapkan kata "Kebudayaan". Dalam pidato menteri, alam tulisan doktor, dalam ceramah agama, dan lain-lain kata itu menjadi semacam sesuatu yang tidak perlu ditanyakan, "sebab semua orang sudah paham", 

Tapi beda lagi dengan orang awam seperti saya saja yang sukar menjawab apa itu kebudayaan, ahli budaya dan budayawan pun berbeda pendapat. Mereka mengemukakan definisi yang beragam sekali sehingga kita didorong pda kesimpangsiuran pengertian dan makna. Bagi kita, dengan banyaknya definisi kebudayaan-menurut penelitian A.L Kriber dan Clyde Kluckhon, definisi kebudayaan ada sekitar 160 pengertiannya tidak bertambah terang, tetapi sebaliknya.

Keragaman definisi itu memang menjadi nasib kata yang melambangkan konsep abstrak ini, terlebih karena fungsi pentingnya dalam satu cita, pandangan, aliran, sebuah paham, atau ideologi. Tetapi, semua definisi itu mempunyai persamaan bahwa kebudayaan berhubungan dengan manusia. Oleh karena itu, seorang guru besar Universitas Indonesia sampai tahun 1954, Bernet Kempers, apabila ditanya apa itu kebudayaan, ia memulangkan pertanyaan itu dengan apa itu manusia?

Menurut yang saya paham, budayalah yang membedakan kita dengan tanaman dan binatang. Alfred Korzybski pernah membandingkan tanaman, binatang, dan manusia dengan menyebut tanaman dengan istilah  CHEMICAL BINDING, binatang denga SPACE BINDING, dan manusia dengan TIME BINDING. Pada pohon ada gerak kimia, pada binatang ditambah dengan gerak yang menghubungkan ruang, dan hanya manusia yang dapat mengatasi waktu. Oleh karena itu, inti kebudayaan adalah kenyataan yang dilahirkan manusia dengan perbuatan dalam satuan detik kehidupan. Kebudayaan tidakhanya asalnya, tapi kelanjutannya juga bergantung pada perbuatan manusia. Dan perbuatan manusia itu adalah manifestasi dan bergantung pada jiwanya yang mempunyai kegiatan berpikir dan merasa (maksud "merasa" di sini adalah merasa ruhaniah dan merasa jasmaniah).

MAKNA KEBUDAYAAN
Saya terkadang diingatkan oleh mereka bahwa kebudayaan dalam makna etika adalah kebudayaan sebagaitidak kacau menjalani hidup-sebaai sistem keyakinan dan larangan yang bertemu dengan kondisi budaya, ekonomi, dan politik yang menciptakan masyarakat. Agama berada di dalam masyarakat, sejarah dan budaya, bukan di bawahnya ataupun di atasnya.
proses, bukan sebagai produk atau kata benda. Ini pening sebab kebudayaan sebagai produk dapat dimengerti sebagai sesuatu yang bebas nilai, meskipun kehadirannya sering kali memaksa manusia untuk menysuaikan diri dengannya. Ambil satu contoh, kehadiran industri di pedesaan telah memaksa masyarakat desa untuk menyesuaikan diri dengan ritme industrialisasi tersebut. Dengan industrialisasi ini, tata kehidupan lama yang berorientasi kebudayaan agraris mengalami pergeseran nilai budaya dan secara bersamaan terjadi proses perubahan serta pergeseran struktur sosial yang menopang kehidupan masyarakat desa. Sebaliknya, kebudayaan sebagai proses berpusat pada jiwa, menggerakkan masyarakat dan alam. Kebudayaan di sini dapat pula disebut sebagai aktivitas pemikiran. Di sini pulalah yang membuat kita mengerti kenapa Muhammad Arkoun memandang agama-yang merupakan aturan main agar

Pada tahap kebudayaan sebagai proses, kebudayaan merupakan usaha manusia untuk menjawab tantangan yang dihadapinya. Tantangan yang dihadapi itu sangat kompleks sehingga kebudayaan pun menjadi sangat kompleks juga. Perbedaanya terletak pada tataran ontologis dan fungsional. Pada tataran ontologis,  manusialah yang menentukan kebudayaan. Tapi, pada tataran fungsional justru manusia terjaring oleh kebudayaannya sendiri, kebudayaanlah yang menentukan manusia. 

Pada zaman serba modern ini, jam tangan digunakan bukan untuk mengetahui waktu shalat, melainkan untuk menunjukkan bahwa pemakaiannya adalah orang yang berkecukupan, yang bisa mencerminkan status sosialnya, sehingga seorang menteri harus memakai jam tangan seharga sepuluh juta rupiah ke atas. Baju pun bukan menjadi kebutuhan penutup aurat dan untuk terlihat indah, melainkan menjadi satu pengumuman bahwa "inilah saya Direktur atau manager ataupun anggota DPR yang berbusana jas seharga sepuluh juta rupiah lagi". Apakah benar juga kita harus mempermasalahkan kesenangan orang lain? tapi yang pasti, Tuhan melaknat harta-harta hasil korupsi. Tuhan pun melaknat hidup berpoya-poya! Dan tunggulah harta-harta yang dilaknat-Nya itu akan menjadi sumber penyesalan. 
Terkadang saya ingin berdo'a untuk mereka yang menghianati amanah rakyatnya, dengan berbagai macam jenis korupsi, entahlah salah atau tidak.:
"Tuhan, 
Kau telah bangun istana-istana itu untuk meludahi gubuk-gubuk reyot dan kasar. 
Kau telah kirimkan asap mobil-mobil mewah mengotori muka-muka kaum papa.
Kau telah hiasi leher-leher mereka dengan emas yang menyilaukan mata kaum miskin yang berpakaian compang camping.
Kau pun telah membiarkan mereka menduduki kursi empuk yang kakinya dipenuhi air mata kaum fakir rakyat.
Tuhan,
Kami ingin melihat Engkau menyiksa mereka.
Kami ingin mendengar jerit minta tolong mereka.

Ingin pula sekali waktu kami berdo'a
Tuhan, jangan Kau siksa mereka,
Kasihani mereka
Kami tak tahan melihat harta-harta mereka menjadi bencana,
Kami tak tega melihat kedudukan mereka menjadi malapetaka.
Tuhan!!
Tuhan!!
Tuhan!!.

Dalam konsep Filsafat Islam, Sesungguhnya proses kebudayaan tidak boleh keluar dari niali-nilai moral. Sebab, kebudayaan adalah eksistensi hidup manusia yang terbingkau dalam nilai-nilai itu. Filsafat Islam mengajarkan bahw kreativitas manusia sejak dari  berpikir, berimajinasi, beraktualisasi, atau berekkpresi dalam pilihan-pilihan dan percobaan harus berlandaskan pada nilai-nilai yang baik, untuk menciptakan kehidupan yang manusiawi dan memperkaya kehidupan spritual, bukan sebagai aktualisasi dari pemenuhan hawa nafsu yang bisa menyebabkan mata, telinga, dan hati tertutup sehingga dengan kekayaan atau ilmunya itu manusia sanggup melakukan kejahatan.

Pernahkan sahabat yang budiman melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan? Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan
tutup atas penglihatannya. Siapakah yang memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat? Mengapa kalian tidak ambil pelajaran (QS. al-Jatsiyah :23)"

Ternyata proses kebudayaan ini sebenarnya merupakan tiruan dari kekuatan yang tak tampak oleh mata kita, tapi nyata ada, dalam proses penciptaan alam semesta ini, sehingga terjadi keseimbangan antara alam ciptaan Tuhan dan budaya ciptaan manusia. Kebudayaan merupakan bentuk kreatif dari kerja sama manusia dengan Tuhan. Dalam bahasa Muhammad Iqbal, co-worker of God. Penciptaan bersama dengan Tuhan. Jika Tuhan menciptakan lautan, manusia membuat kapal untuk mengarungnya. Tuhan menciptakan malam, manusia menciptkan lampu-lampu temaram yang romantis nan indah. Dalam perbuatan kapal dan lampu-lampu indah itulah terjadi penciptaan bersama.

"Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaknya ia mengerjakan pekerjaan yang baik dan janganlah mempersukutukan Tuhannya dengan sesuatu apa pun (QS.al-Kahfi:110)"

Apakah yang dilakukan manusia dalam kebudayaan? Jawabannya tercakup dalam tujuh aspek : sosial, ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknik, kesenian, filsafat, dan agama. Dalam pembahasan etika ini, saya hanya  meninjau sosial, ekonomi dan politik. 


Written by

7 comments:

  1. slmat mlm sobat trmksi info dan tulisan yng sangat bagus sobat

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama sobat.. semoga bermanfaat..

      Delete
  2. do'a yang sanat menyentuh, dan semoga terijabah. khususnya pada bagian
    Ingin pula sekali waktu kami berdo'a
    Tuhan, jangan Kau siksa mereka,
    Kasihani mereka
    Kami tak tahan melihat harta-harta mereka menjadi bencana,
    Kami tak tega melihat kedudukan mereka menjadi malapetaka.
    Tuhan!!
    Tuhan!!
    Tuhan!!.

    ReplyDelete
  3. .. kebudayaan itu emank aneh. bahkan ada yang mendekati musrik. huhh ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. .. namun kenapa masih banyak aja ya yg menganut tentang kebudayaan itu?!? ..

      Delete